Sejak siang hingga menjelang senja, Via masih duduk memeluk lututnya sendiri di atas karpet bermotif bunga'bunga kecil di samping ranjang tidurnya. Matanya yang sembab kemerahan seperti mengisyaratkan amarah yang membuncah hebat, dan sesekali cairan bening meleleh dari sudut matanya, mengalir membentuk sketsa sungai kecil di sepanjang garis pipinya.
Pandangan tajamnya tak sedetikpun beralih dari layar monitor laptop berukuran 14 inc yang disana terpampang jelas larik-larik puisi berhias bingkai bermotif hati bergandeng dengan bunga edelweish. Puisi itu terbungkus berbentuk file microsoft word yang tak sengaja ia temu di salah satu folder dalam flashdisk fajar.
"Dear My Beloved Enny"
Tak pernah ku jumpai hati yang semutiara hatimu,
Tak pernah ku jumpai senyum yang sepermata senyumu,
Di belahan bumi yang kakiku pernah ku ajak berpijak,
Adalah kau satu satunya wanita setelah ummulmu'minin yang membuat seluruhku bergetar hebat kala menyebut namamu, kala memandang cantik wajahmu, kala mendengar lembut tuturmu,
Pancaran pesona ilahiyah yang selalu kudapati dari tiap gerakmu adalah magnet yang tak henti'henti memikat segalaku,
Enny,
Cinta ini tulus dan suci,
Enny,
Semoga Robbuna tak pernah memisahkan kita, dunia sampai di akhirat'Nya,
By : Ahmad Fajar Shodiq
Ahad, 20 rabi'ul awal 1429 H
Via masih tak memalingkan pandanganya di layar itu, ia ulang-ulang lagi setiap larik puisi yang terpampang di hadapanya. Entah sampai berapa ratus kali puisi itu ia eja dan ia resapi. Matanya merah, pipinya basah oleh air mata dan kedua tangnya saling meremas satu sama lain. Ada rasa marah, kecewa, dan entah apa yang bercampur baur mendapati orang yang selama ini ia cintai ternyata telah memiliki kekasih hati.
“Enny, Enny, Enny….” Nama itu terus perputar dalam otak Via, berselang sederet tanya yang coba ia terka-terka sendiri, “Enny…??? Siapa Enny???, apa dia juga santriwati NuQi?? Atau mahasiswi IAIN?? Atau siapa???... Enny???? Nama yang asing, kenapa aku tak pernah mendengar nama itu sebelumnya?? Ahh Gustiii… siapa sebenarnya wanita yang sungguh beruntung mendapatkan hati ustadz Fajar???” Via terus berdialog dengan dirinya sendiri, kadang ia begitu merasa membenci Enny, kadang juga tumbuh rasa iri, tapi juga kagum pada sosok enny yang dibingkai oleh fajar dalam puisinya.
Tak berselang lama, lamunan via terpaksa usai oleh suara ring-tone tilawah Qur’an dari hp mungilnya. Dengan rasa malas dan mata yang masih berat ia coba meraih hp mungil yang tergeletak di sampingnya, diliriknya pada bagian layar dan alangkah terkejutnya ia mendapati nama yang terpampang disana “ustadz Fajar calling”. Lagi-lagi jantungnya berdebar kencang tiap kali mendapati segala sesuatu yang berkaitan dengan ustadz idola sekaligus yang diam-diam di cintainya itu, terlebih kini nama itu tampil di layar panggilanya. Tangan halusnya gemetar dan jantungnya berdebar hebat kala ibu jarinya menekan tombol “yes”, “:Assalamualaikum mbak via” suara fajar dengan cepat menelusup tidak hanya di telinga via, tapi juga menjalar dan menggetarkan seluruh ruang hati gadis cantik berdarah Jawa itu. Via mencoba mengatur nafasnya agar tak terdengar gugup, menariknya dalam-dalam dan menenangkan dirinya sebelum kemudian ia menjawab salam dari fajar “wa..walaikum salam ustadz” jawabnya dengan nafas berat. “
“eh, afwan ya mbak saya menganggu sebentar, begini mbak, tadi saya menelfon ustadzah hamidah untuk meminta flash-disk saya yang beliau pinjam untuk mengambil data santri baru, dan kata beliau Flash-disk’nya di titipkan antum ya??” Fajar menata kosa katanya sesantun mungkin.
Suasana hening, tak ada jawaban dari Via, rupanya disebrang telfon, Via tak begitu focus mendengarkan pertanyaan Fajar, yang berkutat di fikiranya hanya Enny, Enny dan Enny. Ingin sekali ia langsung menanyakan pada Fajar tentang siapa sebenatrnya wanita bernama Enny yang di tuangkan dalam puisi singkat itu, tapi ia urungkan, sebab tak mungkin ia membiarkan fajar tahu perasaanya, ia tak ingin siapapun tahu kalau dia mencintai fajar, terlebih lagi fajar. Lagipula fajar adalah ustadz’nya, terlalu su’ul adab rasanya jika ia menanyakan hal-hal yang bersifat privasi.
“halo, mbak devia…. Mbak masih di situ kan, haloo mbak… kok diam??” suara fajar memecah lamunan via, viapun dengan gugup buru-buru menimpali “oh.. iyaa, maaf ustadz… emm.. ehh… ii.. iyyaa… flashdisk ustadz ada sama saya, tadi ustadzah hamidah menitipkanya pada saya karna beliau fikir saya yang satu kampus dengan ustadz, jadi bisa ketemu ustadz besok, bagaimana ustadz??? Suara via masih tampak gugup dan berat.
“oh, iya mbak, jadi begini, besok saya ada urusan di luar, jadi tidak bisa ke kampus, sementara flash-disknya tolong titip dulu, oya mbak lusa saya ujian skripsi, mbak hadir yaa, sekalian bawa flash-disk nya, ya sudah begitu saja saya pamit dulu, assalamualaikum”
“tuuutt…tuutt….” Suara fajar lenyap di sebrang telfon, namun debar dalam dada Via tak kunjung lenyap malah makin bergemuruh hebat.
“Ahh… Robbi.. harusnya aku bahagia karna ustadz Fajar secara langsung mengundangku pada ujian munaqosahnya lusa, tapi aku… ahh… ini terlalu menyakitkan Robbi” nafasnya makin memburu dan sesak, wajahnya pucat dan via merasa matanya mulai berkunang-kunang tak sampai hitungan menit tiba-tiba “brukk” Via pun jatuh pingsan sore itu. Tak pelak robohnya tubuh via menggegerkan santriwati di kompleks Fatimiyah yang di tempatinya.
***
“afwan ustadz, ini saya di beri amanat mbak via untuk memberikan flashdisk ini pada ustadz” seorang mahasiswi yang juga santriwati NuQi meyerahkan flasdisk berwarna biru muda itu kepada Fajar yang baru saja menyelesaikan ujian sekripsinya dengan nilai mumtaz dari para tim penguji.
“loh, kok antum yang menyerahkan, memang mbak Via ndak ke kempus hari ini??” Tanya Fajar dengan logat lembut khas jawa tengah’nya yang kental.
“iya ustadz, mbak Via’nya sedang sakit, kemarin sore beliau jatuh pingsan dan masih di rawat di Puskestren” tutur santriwati bernama Husna itu.
“Maasyaallah, pasti beliau terlalu banyak lembur karna mengejar merampungkan skipsi sampai sakit begitu, ya sudah mbak, terimakasih, salam untuk beliau semoga lekas sembuh”
Sore itu Fajar yang masih di kerumuni teman-temanya yang mengucapkan selamat atas kesuksesan ujian sekripsinya terpaksa meminta izin teman-temanya untuk menepi karna hp dalam jas hitamnya berdering. Tanpa menunggu lama Fajar mengangkat telfon yang tak lain adalah dari Via,
“Walaikumsalam via, bagaimana keadaan sampean??? Kata mbak Husna mbak via sakit ya??” Fajar menunjukan kecemasanya pada gadis yang pernah menjadi muridnya sewaktu belajar Tajwid itu. Sejak mereka ditugaskan dalam satu jabatan di Peasntren yakni sebagi ketua keamanan. Dan pula mereka secara kebetulan mendapat dosen pembimbing sekripsi yang sama, banyak hal yang terpaksa membuat mereka terlinbat dalam satu urusan dan pekerjaan dan menjadi lebih dekat.
“eh, iya ustadz, ana tidak apa-apa, hanya sedikit capek, ustadz ana minta maaf karna tidak bisa memberikan flash-disknya langsung kepada ustadz dan juga minta maaf karna tidak bisa datang pada ujian munaqosah ustadz, oya bagaimana ujianya ustadz??” Via masih berusaha menyembunyikan getar hati yang bergejolak di setiap ia berbincang dengan laki-laki yang sudah sejak 4 tahun yang lalu ia cintai diam-diam itu.
“Alhamdulillah semuanya berjalan sesuai yang diharapkan mbak, berkat doa dari mbak Via dan teman-teman, wah, sebenarnya saya sangat berharap mbak Via juga bisa hadir di ujian munaqosah saya tapi karena mbak masih sakit, saya maklum, lagipula kesehatan mbak via jauh lebih penting” tutur lembut dan santun Fajar lagi-lagi memberi sensasi dan kesan tersendiri di telinga dan hati via, ada yang bergetar hebat tiap ia mendengar suara merdu pujaan hatinya itu. Meski berbincang dengan Fajar bukan lah hal baru, tapi selalu saj menghadirkag getar baru di hati Via.
“ah ustadz bisa saja, eh ustadz afwan boleh Tanya sesuatu” suara Via makin terasa berat dan sesak,
“tafadhol mabk, asal jangan susah-susah, hehe”
Via mencoba menarik nafasnya dalam-dalam sembari mengumpulkan segenap kekuatan hati yang sempat benar-benar lumpuh sejak nama Enny menelusup dan mangacaukan pikiranya.
“afwan ustadz kalo ana boleh tau apa rencana ustadz setelah menyandang gelar S1 nanti?? Apa akan langsaung meneruskan S2??”
“kalau S2 itu sudah jadi target saya mbak, tapi tidak terburu-buru, karena ana ada rencana ikut program beasiswa S2 dari Depag tahun depan, emmm kalau rencana besar lain yang terdekat usai wisuda si ada mbak emm, sayaa….” Fajar menghentikan kata-katanya,
“apa ustadz? Apa rencana terdekat ustadz paska wisuda??” Via seolah tak sabar dan berdebar-debar,
“emmm…. Melamar seorang gadis mbak” jawab Fajar lirih namun terdengar jelas di telinga Via,
Seketika leher via seperti tercekik, matanya tersa panas dan cairan bening itu meleleh, Via merasa di timbuni oleh duka yang bertubi-tubi, ketakutanya benar-benar terjadi, dan lagi-lagi sosok Enny yang bahkan tak pernah ia temui melintas di benaknya lalu menertawai kebodohanya.
Via diam seribu bahasa, ia tak tau harus berucap apa ditengah galau hatinya. Tak ada pilihan lain via segera menekan tombol “end” dan mengahiri panggilan tanpa pamit kepada uastadz Fajar.
****
Udara desa yang bersih tanpa aroma polusi, iklim social yang masih ramah, sarat akan norma kesantunan dan hangat rasa persaudaraan adalah beberapa hal yang selalu di rindui Via dari kampung halamanya. Sore itu seperti biasa sepulang jama’ah Sholat Asar di Masjid yang dipangku oleh ayahnya, Via memilih duduk di teras rumah, Via yang terlihat anggun dengan mukena yang mesih melekat bersama al-Qur’an kecil di tanganya ia mulai me-muroja’ah lagi hafalanya, ayat per-ayat yang tentu juga ia coba resapi makna dengan penghayatan yang dalam. Via memejamkan matanya mencoba mencari celah agar hatinya benar-benar hadir dan khusyu’ namun lagi-lagi ia gagal. Bayangan Fajar dan Enny seperti menari-nari mengacaukan kosentrasinya, selalu begitu sejak peristiwa itu. Ini adalah hari ke 10 ia berada di rumah sejak ia berpemitan kepada KH.Ma’ruf Amrullah dan ibu nyai selaku pemilik dan pengasuh Pesantren Nurul Qur’an (NuQi), juga kepada seluruh teman-temanya di pesantren bahwa ia akan pulang dan tidak kembali lagi ke pesantren.
Sejak kehadiran nama Enny dalam hidupnya, sejak ia tahu bahwa laki-laki yang ia cintai dan ia idam-idamkan telah memiliki wanita pujaan bernama Enny, Via merasa hidupnya kacau, harapanya hancur dan Via merasa tak lagi memiliki gairah hidup.
“Ahmad Fajar Shodiq” laki-laki yang sejak pertama kali dikenalnya ketika ia menjadi mahasiswi baru di salah satu Sekolah Tinggi Agama Islam Negri di Jawa-Tengah telah diam-diam menabur benih cinta di hati Via, tidak cukup sampai disitu, kehadiran sosok Fajar ternyata telah membawa perubahan besar pada dirinya. Via yang mulanya hanya berniat untuk kuliah saja tanpa sedikitpun memiliki minat untuk mangenyam pendidikan di pesantren berubah setalah ia mengenal sosok Fajar. Fajarlah yang banyak memberi peencerahan pada Via sehingga tak sampai 1 smester ia mengenal fajar, banyak sekali perubahan dalam diri Via termasuk keinginanya menghafal al-Qur’an di pondok pesantren adalah tak lain tak bukan karna Fajar-lah yang telah membuka mata hatinya. Sebelumnya, Via adalah anak manja yang setiap keinginanya harus terpenuhi, yang tak pernah melakukan apa yang tak dia kehendaki. Sejatinya Via adalah anak dari keluarga yang sangat respek terhadap pendidikan agama. Ayahnya yang seorang wiraswastawan sukses merupakan tokoh masyarakat sekaligus tokoh Agama di desanya, ibu’nya sendiri adalah ketua kelompok pengajian ibu-ibu. Via adalah anak terakhir dari 4 bersaudara yang semua kakak-kakanya mengenyam pendidikan di peasntren, bahkan salah satu kakak laki-laki Via menikah dengan putri pemilik pesantren yang lumayan masyhur di daerah Jawa-Barat. Akan tetapi via yang keras kepala dan manja itu membuat siapapun termasuk ayahnya tidak mampu memaksa Via untuk mengikuti jejak kakak-kakaknya menjadi santri. Dulu semasa Madrasah Aliyah Via pernah di paksa nyantri oleh ayahnya sampai akhirnya dia terpaksa di ambil lagi karna penyakit sering kabur-kaburannya.
Namun Via berubah sejak sosok fajar tampil sebagai idola baru dalam hidupnya.
“Nduk…” suara lembut wanita setengah baya itu membuyarkan lamunan Via,
“emm, njih bu* Via buru-buru menutup mushaf dalam genggamanya.
“hemmh, nduk, bu’e perhatikan sejak kamu boyong dari pesantren kamu sering melamun, bahkan ibu lihat kamu sering tak konsen saat muroja’ah hafalan Qur’anmu sebenarnya ada apa tho nduk??” jemari Mufidah yang meski tak lagi selentik dulu akibat kerutan yang mulai muncul disana sini tetap memberi kehangatan tersendiri bagi Via setiap ia mengusap lembut kepala putri bungsunya itu.
“ah, Via ndak papa bu’e, Via baik-baik saja, Via hanya kangen sama teman-teman di pondok, kangen sama nasi tiwulnya bu jami’” sergah via dengan senyum yang tertahan.
“nduk, jangan bohong sama bu’e, bu’e ini yang ngandung kamu 9 bulan, yang melahirkan kamu, menyusui dan merawat kamu, bu’e tau putri bu’e ini tidak sedang baik-baik saja, ceritalah nduk, sebenarnya ada apa?? Bu’e dan ayah merasa ada yang kamu sembunyikan dari kami nduk” Mufidah menghentikan sejenak kata-katanya, dan menghela nafas panjang
“hemmh… Nduk, keputusanmu boyong dari pondok secara tiba-tiba, dan menerima tawaran ayah untuk di jodohkan dengan nak Adnan bagi ibu adalah satu hal yang janggal, ibu sangat tau kamu masih ingin meneruskan kuliah S2-mu, ibu juga sangat tau kamu belum ingin menikah, tapi kenapa kamu berubah pikiran nduk?? Apa kamu sudah benar-benar yakin menerima lamaran Adnan??” kali ini mufidah menatap dalam-dalam wajah putri bungsunya, mencoba mencari kejujuran dari celah mata bening Via.
Via menarik nafasnya panjang, mencoba menyembunyikan rona kekalutan dari wajah cantiknya agar wanita yang telah melahirkanya ini tak curiga pada keputusan yang ia buat.
“bu’e, Via sudah berfikir dan mempertimbangkan semuanya masak-masak, bahkan Via sudah Sholat istikhoroh untuk meminta petunjuk Allah bu, dan dalam mimpi Via yang ke sekian kalinya Via mendapati Mas Adnan Mengenakan baju serba putih dan tersenyum pada Via. Via merasa sudah cukup dewasa dan ingin segera menyempurnakan ibadah dengan menikah, karna Via yakin pernikahan bisa menjaga dan menyelamatkan iman Via. lagi pula Hafalan Via kan sudah khatam, kuliah juga tinggal merampungkan skripsi” Via menarik nafasnya dalam-dalam “Emmhh , Mas Adnan orang baik bu, hafal Al-Qur’an, sarjana Lc, sudah mapan pula. Lagian ayah dan ibu tampak sangat menyukai mas Adnan bukan??” via dengan hati yang masih berdarah-darah karena keputusanya sendiri mencoba tetap tersenyum dan menunjukkan wajah bahagia di depan ibunya.
“syukurlah kalau begitu, bu’e Cuma khawatir kamu mengambil keputusan dengan setengah hati nduk, karena walaupun ayah dan ibu menyukai Nak Adnan tapi rasa sayang kami padamu jauh lebih besar dari apapun nduk, kami tentu tak ingin memaksakan kehendakmu, yang kami inginkan hanya kebahagiaanmu cah ayu” mufidah memeluk hangat putri bungsunya itu.
“nduk, tapi apa kamu mencintai nak Adnan??”
Bak di sambar petir, pertanyaan ibunya yang sederhana itu menggelegar hebat ditelinga dan hati Via, seperti bongkahan garam yang mengguyur luka menganga dalam bathinya,
“Adnan?? Aku men cintai Adnan??, Ahh Robbiii…. Mana mungkin aku bisa mencintai laki-laki lain sementara seluruh cintaku sudah tertelan habis oleh Fajar??” Via memaki-maki dirinya sendiri dalam hati, ia menjerit, meronta, mencoba menapar dirinya sendiri yang sudah terlampau bodoh karna menaruh cinta dan harapan pada orang yang salah. Tanpa sadar Via kembali tergugu dalam tangis, nafasnya tersengal sesenggukan, suaranya tertahan dan makin terpuruk dalam pelukan ibunya.
“nduk… Via… kamu menangis nak??? Kenapa??? Ayo cerita pada bu’e??” Mufidah tampak cemas mendapati tubuh Via bergoncang-goncang karna menahan tangisnya yang sudah nyaris pecah.
“ndak bu, Via hanya terharu karna dua bulan lagi Via akan menyandang setatus baru sebagai istri Mas Adnan, emm bu’e, Via ingin ke kamar dulu, Via masih ingin nderes (tadarus)” Via berlalu meninggalkan ibunya dengan air mata yang masih membanjir di wajah ayunya.
***
Siang itu untuk mengusir kejenuhan Via membuka akun Facebooknya sekedar berbagi kabar dengan teman-teman di kampus dan di pesantrenya juga menyapa teman-teman dunia mayanya. Tak disangaka sebulan lebih ia tak membuka Fb ternyata banyak sekali nontifikasi, permintaan pertemanan, inbox dan bahkan peasan wall dari taman-temannya, mungkin lantaran sejak ia berpamitan pulang kampung Via memang sengaja menon-aktivkan nomor hp-nya karna ia ingin benar’benar menenangkan diri tanpa harus di ganggu dengan serbuan pertanyaan dari teman-temanya yang menanyakan prihal alasanya meninggalkan pesantren dan menunda Wisuda tahun ini.
Saat membuka inbox laju darah Via tiba-tiba berdesir lebih cepat mendapati dua nama laki-laki yang tampil di antara sederet inbox dari sekian teman-temanya. A.Fajar Shodiq dan Adnan Rosyid.
Jemari lentik Via sdikit gemetar kala krusor di monitornya mulai ia arah pada pesan Fajar yang tak sabar ingin segera ia baca, pesan tanpa judul itupun di bukanya, dan mulai ia eja kata demi kata,
“Mbak Via apa kabar?? Kenapa Hp mbak Via tak pernah bisa di hubungi?? Saya sms berkali-kali pun pending. tadi saya ke kantor pondok putri untuk menyerahkan database pada mbak Hamidah sekalian mencaritau kabar mbak Via, saya angat terkejut ketika mengetahui mbak sudah pamit boyong dan tidak kembali lagi ke pesantren seminggu yang lalu, kemudian ketika saya tanyakan kabar skripsi mbak pada pak Manaf saya makin terkejut karena kata beliau mbak menunda Wisuda tahun ini, kenapa mbak, apa antum sedang ada masalah?? Tolong di balas, mbak Via membuat saya khawatir”
“mbak Via membuat saya khawatir” kalimat di larik terakhir itu membuat detak jantung Via semakin berdebar kencang, darahnya melaju lebih cepat dan keringat dingin serta rasa tak karuan menyelimutinya. “ahh ustadz Fajar mengkhawatirkanku??” desahnya pelan, ada rasa tersanjung namun buru-buru ia tepis “tidak… jangan bodoh Via, kekhawatiran itu hanya sebatas karna kamu temanya, tak lebih” Via memaki dirinya sendiri lalu menghempaskan tubuhnya diranjang berseprei biru laut bermotif bunga itu, air matanya meleleh dan lagi-lagi tangisnya pecah. Via membenamkan wajahnya di bantal agar tangisnya tak terdengar sampai keluar kamar. Tak sampai 15 menit ia tenggelam dalam tangis, matanya pun sayu, letih dan Via terlelap dengan posisi masih telungkup membenampak wajah di bantal.
***
“Dik Via” suara lembut Adnan mengejutkan Via yang masih menyusut sisa-sia air matanya yang lagi-lagi meleleh.
Adnan yang kala itu mengenakan baju muslim berwarna putih dengan sdikit motif bordir di bagian lengan dan leher, serta sarung putih bermotif garis-garis lebar dan kopiah putih polos membuatnya tampak lebih bersih, tamapn dan bersahaja.
“Mas lihat dik Via sering melamun dan menangis, ada apa dik, apa adik tak bahagia menjadi pendamping mas??” Adnan yang tak kalah lembut tuturnya dengan Fajar itu duduk sambil mengusap sisa air bening di kelopak mata Via yang lentik.
“tidak mas, Via bahagia menjadi pendamping laki-laki sebaik mas, Via menagis karena Via takut kehilangan mas Adnan” Via dengan suara lembutnya sembari meraih tangan Adnan dan mencium punggung tanganya penuh rasa ta’dzim.
“Gusti Allah maha berkehendak sayang, Jika Ia menakdirkan kita bersama maka tak ada satupun yang mampu memisahkan kita” Adnan menarik tubuh mungil Via kedadanya dan memluk Via sepenuh kasih. Tak henti-henti tangan dan bibir Adnan bergantian mengusap dan mengecupi kepala Via yang masih dibungkus selendang tipis berwarna ungu muda.
“Cah Ayu, bangun sayaang, sudah adzan ashar… bisanya kamu sudah berangkat ke masjid bareng ayah. Ayo bangun” Suara lembut dan belaian hangat itu membangunkan Via yang terjaga selepas letih menangis sesiang tadi, samara-samar Via membuka katup matanya dan mendapati wanita paruh baya yang sangat ia ciantai itu duduk disampingnya dan mengusap-usap kepalanya.
“ahh ibuu” desah Via dengan suara serak
“iyaa, ayo bangun.. sudah manjing ashar, kamu juga belum makan seharian ini, Ayo bangun, mandi, sholat dan makan, nanti kamu sakit lo” ibu setengah baya yang penuh asih itu berlenggang pergi setelah memastikan putri tercintanya telah benar-benar bangun.
Usai menepis rasa kantuk dan malasnya, Via mencoba bangkit dan mendapati laptop mungilnya masih menyala bahkan akses internetnya masih tersambung dan facebooknya masih dalam keadaan online. Via baru benar-benar menyadari bahwa sosok Adnan lagi-lagi hadir dalam mimpinya, mengenakan baju putih dan tersenyum penuh arti. Walau masih dalam ketidak mengertian akan makna mimpi itu, tapi Via mencoba meyakini bahwa mimpi itu adalah isyaroh serta petunjuk Allah atas istikhorohnya ahir-ahir ini. Memikirkan Adnan membuatnya jadi ingat sesuatu, ada satu inbox yang belum ia buka, ya inbox dari Adnan calon suaminya.
Tak banyak membuang waktu, Via dengan degup jantung yang masih belum stabil nengarahkan gerak krusornya pada satu inbox yang terselip diantara sederet inbox : Pesan Dari Adnan el Rosyid ‘judul’ “Assalamualaikum dik Via” . Nafas Via mulai terasa berat saat menunggu peasn itu completed terbuka.
“Dik Via, Apa kabar?? Semoga sehat selalu. Dik Via, sebelumnya mas mohon maaf jika sekira mas sudah lancing mengirim inbox ini pada dik Via. begini Dik, seminggu yang lalu abah menelfonku dan beliau memberi kabar bahwa dik Via meneriam tawaran abah untuk di jodohkan dengan ku. Jujur Mas sangat terkejut dan bahkan nyaris tak percaya seorang dik Via menerima dijodohkan dengan mas. Tapi mas juga tak bisa membohongi hati mas, bahwa mas sangat bahagia dik, saking bahagianya usai meneriam telfon itu mas langsung sujut syukur di kantor dan disaksikan banyak orang. Dik Via pasti tahu bahwa mas sudah sangat lama menaruh hati pada dik Via, bahkan sebelum mas berangkat ke kairo 6 tahun yang lalu, waktu itu dik Via masih Madrasah Aliyah kan?? Hehe masih terllu kecil untuk menerima ungkapan cinta dari seorang laki-laki. Setelah dua tahun di kairo mas mendengar cerita dari ibu bahwa dik Via mesantren di jawa tengah, hafalan al-Qur’an lagi. Sejak itu mas selalu kepikiran dik Via dan memberanikan diri meminta abah untuk melamar Dik Via. waktu itu ibu dan ayah dik Via bilang Dik Via belum mau menikah, dan masih ingin merampungkan kuliah dan hafalannya. Makanya mas memilih menunggu dik Via dan tidak memikirkan soal wanita dulu.
Dik Via, sekali lagi terimakasih karna sudah berkenan meneriam saya sebagai calon pendamping hidup. Insyallah bulan ini mas naik jabatan dan pastinya punya penghasilan yang lebih. Insyallah secara fisik, mental dan material mas siap memulai hidup baru denganmu dik. Jaga diri dan hafalanmu baik-baik nanti kalau kita sudah halal kita akan mentadarusnya bersama-sama. Baarokallah yaa huurun ien. Oya maaf jika mas mengirim pesan ini di fb, mas sudah berkali-kali menghubungi nomermu tapi tak aktif”
Tak terasa senyum kecil mengembang dari bibir Via, entah karena ia bahagia atau karena ia tersanjung karena Adnan telah dengan sungguh-sungguh menunggu dan menjaga hati untuknya. Sebelum ia logout ia sempatkan membuka fb Addnan dan memandang sekilas beberapa Foto Adnan yang terpampnag di album profil, “hemm, tampan” gumam Via dalam hati dan seulas senyum yang menyimpul tipis di bibir mungilnya.
***
Seperti malam-malam biasnya, usai sholat isya’ dan muroja’ah hafalanya, Via mempersiapkan diri untuk tidur lebih awal agar bisa bangun di sepertiga malam untuk qiyamulail. Namun malam itu Via tak bisa memajamkan matanya meski ia telah berusaha sekeras mungkin, Via tetap tak dapat pejam. Malam itu bnyak hal yang ia fikirkan dan 2 orang pria yang beberapa hari ini berkutat penuh di fikiranya. Fajar sosok laki-laki sederhana namun penuh charisma yang sejak ia duduk di bangku kuliah telah berhasil mencuri penuh hatinya dan bahkan mengubah hidupnya, dan Adnan yang selama ini bahkan nyaris tak pernah melintas di benak hatinya namun beberapa hari ini terpaksa ikut bergumul dalam orkestra alur hidupnya lantaran keputusanya menerima tawaran ayahnya untuk di jodohkan oleh laki-laki itu.
Via perpekur sendirian, tersudut dalam rauangnya sendiri, sesak dalam nafasnya sendiri. ia bahkan tak tahu apa dan siapaa yang sedang perperan dalam dirinya, Egonya kah?? Atau nuraninya??. Via tak pernah sedikitpun terbesit untuk meneriama lamaran laki-laki manapun, kerena sejak dulu dalam bayang dan imaginasinya hanyalah ada sosok fajar yang dia yakini akan menjadi pendamping hidupnya. Tapi semuanya berubah deratis sejak puisi tentang Enny itu ia eja dengan mata kepalanya sendiri, larik-larik itu bahkan masih lekat di pelupuk mata Via,
“Tak pernah ku jumpai hati yang semutiara hatimu,
Tak pernah ku jumpai senyum yang sepermata senyumu,
Di belahan bumi yang kakiku pernah ku ajak berpijak,
Adalah kau satu satunya wanita setelah ummulmu'minin yang membuat seluruhku bergetar hebat kala menyebut namamu, kala memandang cantik wajahmu, kala mendengar lembut tuturmu,
Pancaran pesona ilahiyah yang selalu kudapati dari tiap gerakmu adalah magnet yang tak henti'henti memikat segalaku,
Enny,
Cinta ini tulus dan suci,
Enny,
Semoga Robbuna tak pernah memisahkan kita, dunia sampai di akhirat'Nya,”
Via bahkan masih hafal betul taip huruf dan kata yang fajar rangakai dalam puisinya meski ia tak pernah berusaha untuk menghafalnya.. ia mampu merasakan betapa ada getar cinta yang dahsyat dalam puisi itu. “Enny pasti wanita yang sangat sempurna, sholehah dan lembut hatinya, tak seperti aku yang lebih mementingkan Ego dan berani berbohong hanya untuk menutupi perassaanku yang sesungguhnya. Aku membohongi banyak orang hanya karena keegoisanku, aku membohongi Ayah dengan menerima perjodohan itu padahal aku sama skali tak menginginkanya, Aku membohongi ibu karana tak pernah jujur pada perasaanku yang sebenarnya aku tak bahagia dengan perjodohan ini, aku membohongi Fajar karana kerap berbohong hanya agar dia tak tau perasaanku padanya, dan aku membohongi Adnan karena menerimanya sementara aku tak mungkin bisa mencintainya, ahh… aku memang buruk Gusti…. Ighfirly yaa Roobb” pelupuk mata gadis itu kembali basah.
“ahh tidak… aku tak boleh terus teusan begini aku harus bangkit dari ketrpurukanku yang tak ada gunanya ini, aku harus membuka hatiku untuk belajar mencintai mas Adnan dan melupakan ustadz Fajar. Ya aku harus bisa!!! Bissmillah, Engkau telah menunjukiku isyaroh dan menjawab istikhorohku Gusti, maka bimbinglah aku, beri aku ketegaran untuk memulai segalanya. Aku ingin mencintai orang yang akan menjadi pendampingku sepenuh hati tanpa terbagi dengan siapapun. Jadikan hatiku ikhlash melepas cintaku yang semu ini pada Fajar Gusti, jika Ia bukan jodohku maka lekas jauhkan bayangnya dari pelupuk mata lahir dan mata hatiku” Via terus membakar semangatnya sendiri. malam itu juga ia memberanikan diri mengaktifkan lagi nomor ponselnya yang nyaris satu bulan ini ia matikan. “Bismillah” nada pembuka pun berdering deri ponsel di genggamanya. Tak berselang lama setelah ponselnya active puluhan peasn singkat pun masuk dan mulai ia membukanya satu persatu. Nyaris semua pesan yang masuk adalah dari teman-teman yang menanyakan kabarnya, dan yang paling mearik perhatian Via adalah pesan paling akhir yang datang dari Fajar yang berbentuk pesan masal berupa kabar bahagia bahwa seminggu lagi ia akan di wisuda. Via tersenyum tipis dan hatinya berucap syukur atas kesuksesan mahasiswa pintar sekaligus idaman banyak wanita di kampus da di pesantren itu. Via tiba-tiba teringat percakapanya dengan Fajar Via telefon sebulan yang lalu bahwa selesai Wisuda Fajar akan mengkhitbah seorang gadis yang sudah tentu Enny namanya, batin Via. Dan juga ada satu nomor tak dikenal yang sangat menarik perhatianya yang ternyata itu adalah nomor Adnan. Mereka memang tak pernah saling berkomunikasi, bahkan Via tak begitu mengenal Adnan, ia hanya pernah berjumpa beberapa kali dulu sebelum Adnan berangkat ke Kairo dan sekali setelah Adnan sudah pulang dan menjadi PNS di Kantor Urusan Agama (KUA) di salah satu kabupaten di Jawa tengah dan menjadi Dosen Ulumul Hadist di salah satu PTAI.
***
Pagi itu suasana rumah Via berbeda dengan hari biasanya, semua sanak saudara berkumpul dengan membawa senyum gembira, aroma melati dan wangi pengantin sudah mulai tercium di tiap sudut kamar Via yang telah di rias sedemikian rupa. Tenda biru yang di hias janur kuning membuat penampilan rumah Via menjadi lebih megah dan meriah, tempat duduk mempelai sudah di sajikan sedemikian rupa khas adat jawa bak singgasana Raja dan permaisuri yang di hias pernak pernik pengantin. Kakak-kakak Via berkumpul dengan seragam batik khas jawa tengah, serta KH.Dahlan dan Hj.Mufidah kedua orang tua Via yang sudah berpakaian rapih bersiap menyambut kedatangan tamu dan calon besan, semua memancarkan raut wajah bahagia di hari yang telah lama di sepakati kedua belah pihak keluarga itu.
Sementara gadis cantik berparas jelita idaman banyak santri dan laki-laki di kampusnya lantaran kecantikan, dan kecerdasanya, yang kata banyak orang mirip dengan artis cantik Asmirandah itu masih duduk termangu diselimuti rasa yang bercampur baur dalam nuraninya.
Devia Bilqish Zahraini pagi itu sudah mengenakan gaun pengantin kebaya muslimah yang di desain sendiri oleh tantenya, gaun putih bermotif manik-manik bunga merah muda itu membalut penuh tubuh indahnya membuatnya tampak lebih anggun pagi itu. Via masih belum di dandani karena perias yang di sewa tantenya belum kunjung datang. Sementara Via masih khusyu’ memandangi wajahnya sendiri di cermin, memikirkan banyak hal yang berkecamuk dalam dirinya. Hari ini ia akan menikah, mestinya moment seperti ini adalah moment yang sangat membahagiakan bagi setiap wanita, tapi tidak bagi Via. Via sendirian, bergulat dengan rasa yang saling kontras antara bahagia, sedih dan rasa yang entah apa. Via memang sudah membulatkan tekatnya untuk menikah dan mencoba mencintai Adnan, laki-laki baik pilihan orang tuanya. Ia bahagia, namun Via pun tak dapat memungkiri kepiluan hatinya setiap mengingat Fajar, terlebih hari ini semua taman-temanya baik di kampus maupun di pesantren pasti datang untuk menyaksikan dan memberi ucapan selamat atas hari bahagianya, tak terkecuali Fajar. Via sungguh pilu dan merasa tak yakin apakah dia siap bertemu dengan Fajar, ia tak dapat membayangkan akad nikahnya dengan Adnan akan di asaksikan laki-laki yang pernah sangat ia cintai.
“kriiinggg…” ponselnya berdering tanda sms masuk memcahkan lamunanya, Sebenarnya Via sudah sangat malas membuka sms yang menyerbunya sejak undangan pernikahanya dengan Adnan telah tersebar. “pasti ucapan selamat lagi” batinya malas sambil melongok layar ponselnya melihat siapa yang mengirim sms. Dan ternyata nama yang terpajang disana adalah nama laki-laki ayang sejak tadi ia lamunkan. “ustadz Fajar” ; “Assalamualaikum. Baarokallahulak, wa baaroka alaik, wa jami’ bainakumaa fii khaoir, mbak via yang berbahagia, selamat menanti detik-detik penisbatan mbak sebagai wanita yang menyempurnakan ibadahnya dan menjaga dirinya dengan menikah. Wanita baik-baik untuk laki-laki yang baik pula, itu janji Allah. Saya sangat mengenal sosok ustadz Adnan, karena dulu saya pernah satu pesantren dengan beliu di Kediri sebelum saya nyantri di NuQi, beliau baik dan akhlaknya sangat terjaga. Insyallah pernikahan ini barokah dan kalian menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah. saya hanya bisa mendoakan dari jauh karena saya ada halangan yang tidak memungkinkan saya bisa menghadiri hari bahagia mbak. Maka dengan ini saya mohon maaf.”
Membaca pesan santun penuh arti itu darah Via kembali berdsir, dia semakin yakin bahwa Fajar memang tak pernah sekalipun menaruh hati padanya, “bahkan di hari pernikahanku saja ia tak hadir” desahnya lirih. Ada rasa ngilu setiap kali wajah Fajar manjelma di pelupuk matanya, matanya kembali berembun, dan basah.
”tokk… tokk… nduk ini ibuu” ketukan itu mengejutkan Via dan membuatnya buru-buru mengusap air matanya. Iya tak ingin ibunya melihat raut wajah sedihnya itu.
“njih bu, ada apa??” Via mencoba melantangkan suaranya agar tak terdengar parau.
“ini nduk, ada tamu yang ingin bertemu, ibu masuk yaaa” jawab nyonya Mufidah dari balik pintu.
“Njih bu, masuk saja” Via memasang wajah bahagia sekedar agar tak seorangpun tau bahwa sebenarnya ia sedang di rundung duka.
Saat pintu dibuka ibu Via tampak menggandeng seorang wanita berusia sekitar 50-an tahun, bertubuh gemuk dengan gurat-gurat penuaan di sekitar garis wajahnya. Namun meski begitu wanita itu masih tampak cantik dan segar. Via mengeryitkan keningnya mencoba mengenali wanita yang datang bersama ibunya itu, wajahnya sangat familiyar, Via seperti sangat dekat dengan wanita itu.
“ini yang namanya nak Devia??” tanya wanita tua itu sambil tanganya diulurkan pada Via.
“njih bu?” jawab Via seraya menyambut tangan wanita itu dan menyiumnya dengan rasa ta’dzim. Via menghirup aroma tangan tangan wanita itu, wangi khas keibuanya menyeruak masuk kedada Via dan memberi rasa damai yang nyaris sama dengan rasa damai kala ia mencium tangan ibunya sendiri.
“njih bu, ini Via putri bungsu saya yang akan di ijab qobulkan nanti” ibu Via menimpali sambil mempersilahkan wanita tua itu duduk di tepi ranjang pengantin Via.
“emm, nuwun sewu njih bu, saya permisi dulu, saya harus segera ke depan karena tamu suadah banyak yang datang, ndak enak jika ndak menyambut” ibu Via-pun meminta izin untuk keluar dari kamar dan meninggalkan Via berdua saja dengan waita yang sedari tadi memandang Via penuh arti.
“emh, nuwun sewu, ibu ini siapa??” Via mencoba membuka percakapan meski sedikit canggung. Sementara wanita tua itu bukan menjawab malah menjulurkan kedua telapak tanganya mengusap wajah Via yang polos belum di make-up.
“kamu benar-benar cantik nduk, pantas saja” gumam wanita itu lirih namunterdengar jelas di telinga Via,
“ibuu, ibu ini siapa” Via masih diselimuti penasaran dengan tingkah wanita tua ini,
Wanita itu malah makin menjadi dan memeluk erat-erat Via, menenggelamkan wajah Via dalam dekapanya, lalu manangis sesenggukan. Sementara Via yang masih dalam ketidak mengertianya membiarkan wanita itu memaluknya karena entah kenapa, iapun merasa damai dalam dekapan wanita itu.
“Aku wanita yang telah melahirkan laki-laki yang begitu mencintaimu cah ayu” wanita tua itu membuka suaranya memecah keheningan.
“maksud ibu bagaimana??” Via semakin tak menegrti ucapan wanita ini.
“Aku ibunya Fajar nduk, Ahmad Fajar Shodiq, laki-laki yang sejak ibu melahirkanya sampai sedewasa ini ia tak pernah bilang mencintai seorang gadis kecuali kamu” Wanita itu semakin erat memeluk Via.
“apa??? Ustadz fajar menccintai saya??? Ahh bukan saya bu, bukan, yang di cintai ustadz fajar itu wanita bernama Enny, saya membaca sendiri puisi yang beliau tulis untuk Enny, beliau sangat mencintai Enny bu, bukan saya” sergah Via sambil melepaskan pelukanya di tubuh wanita itu.
“ndukk, cah ayuu. Enny itu ya ibuu nduk, Almarhum suamiku dan semua anak-anakku memanggilku Enny, termasuk Fajar. Enny itu di ambil dari bahasa Turki, Anne yang artinya ibu” wanita tua itu mencoba menjelaskan dengan terbata-bata.
“apa??” Via masih tergugu dalam ketidak mengertian.
“iya nduk, dulu aku dan abahnya Fajar sama-sam mendapat tugas penelitian di Turki selam beberapa tahun, kami lalu saling jatuh cinta dan menikah disana, kami hidup di sana sampai Fajar berusia 5 tahun dan kembali menetap di Indonesia, makanya dalam keluarga kami masih banyak tradisi-tradisi Turki yang kami bawa serta dan kami lestarikan termasuk panggilan Enny padaku”
“Ahh” Via hanya mendesah dalam getir sesalnya sendiri.
“beberap tahun yang lalu Fajar bercerita bahwa ia jatuh hati pada seorang santriwati bernama Devia Bilqish Zahraini dan berjanji pada ibu akan melamarnya saat ia sudah menyandang gelar S1-nya, dia bahkan mulai membuka usaha merintis toko buku kecil-kecilan yang tunggui adik sepupunya, karena dia ingin saat siap melamar gadis pujaanya itu dia sudah punya modal dari hasil jerih payahnya sendiri. tapi setelah ia tahu bahwa nak devia akan menikah dengan laki-laki lain, dia putus asa dan sangat terpukul. Dia lalu memutuskan untuk menerima S2 di Suddan yang di tawarkan oleh pihak kampus. Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke bandara dan meminta ibu untuk datang kemari memberikan bingkisan ini padamu” Wanita tua itu mengambil kado berukuran mini dari tas yang ia jinjing dan memberikanya pada Via.
“maaf nduk, ibu tak bisa berlama-lama karena dirumah ada pasien yang akan melahirkan” rupanya ibu Fajar adalah seorang bidan.
“ibu pamit, barokallah nduk, semoga menjadi keluarga sakinah, assalamualaikum” wanita tua itu mengecup kepala Via lalu berlalu pergi meninggalkan Via yang termangu seorang diri, memandangi bingkisan berwarna pink bermotif bunga yang saat ini terpampang di hadapanya. Bingkisan dari laki-laki yang pernah sangat ia cintai dan ternyata pernah sangat mencintainya. Hening… tak sepatah katapun terucap dari bibir mungil Via, Via hanya mematung mengakumulasi puing-puing cerita konyol yang baru saja ia lewati di atlar hidupnya. Via tak lagi dapat menagis karna air matanya terasa sudah terkuras habis. Namun jauh dalam nuraninya ia menjerit, meraung tangis, meledak-ledakan seisi hati. Segalanya tersa begitu menimbuninya. Kamar yanga harum melati itu seperti berubah menjadi aroma kematian hati yang menusuk-nusuk paru-parunya, gema sholawat yang berkumandang meriah di hari akadnya terdengar seperti seruan-seruan kematian yang begitu menghujam telinganya.
Via terpekur sendiri, membisu dalam sorot mata yang kosong, menyongsong detik detik kebahagiaan orang-oarang yang ia cintai, menanti saat saat sang ayah mengucap “Ankahtuka” dan Adnan laki-laki baik budi itu menjawabnya dengangan Qobiltu.
Insyallah Cerpen ini akan bersambung ke part 11.
Terimakasih atas ketersediaanya membaca hasil karya saya. J